My daily dose of …
Everytime I feel blue, I read this…It’s pain, but makes me stronger.
I realize that how much you fight for love, it just can’t be pushed if he/she doesn’t want to work it out together.
—————————-
to my dearest one..
uhuyy.. dah lama ga ngobrol sama kamu “dengan benar”, kemaren saya merasa senang sekali. Nyaman dan tanpa merasa terkekang. I Love that feeling.
Buat saya seharusnya sentuhan itu mudah, tidak pelu dipaksa apalagi dituntut. Saya ini anak keras kepala dan egois. Kalau kamu mulai menginginkan sesuatu dari saya. maka saya akan bertindak sangat defensif. Tapi, disaat saya nyaman, saya bisa memberikan apa yang kamu mau, tanpa perlu diminta. Itulah hasilnya kemarin, obrolan ringan, nyaman, tanpa tuntutan.
Ada apa dengan saya sekarang? Kenapa saya mau-maunya menghabiskan waktu untuk email seperti ini? entahlah. Mungkin karena saya kesepian. atau mungkin kangen. Ya, kangen. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya sekarang. Sudah lama saya berlaku tidak romantis. Hmm.. sebentar, sudah lama? mungkin tidak pernah ya? Makanya saya mau melakukannya sedikit sekarang, eh kalau memang mengirim email di tengah malam minggu itu romantis ya ..:p
Saya mau cerita, gamblang. Atas apa yang sudah saya pikirkan beberapa bulan belakang. Saat kamu mulai memenuhi hidup saya. Saya tahu mungkin ini bisa jadi momok yang membuat kamu tidak mau lagi sama saya, atau mungkin sebaliknya, bisa membuat hubungan ini lebih jujur. Tidak klise yang hanya dirangkai kata hati-hati. Saya tahu kita sama-sama sedang meniti di benang yang tipis. Kalau bersama, mungkin sampai ke seberang bukit. tapi bisa saja satu diantara kita menyerah dan menghempaskan diri ke dalam jurang, dan jatuh entah siapa yang menangkapnya nanti.
delapan bulan yang lalu..
saya gundah, dan saya marah. dan seperti kebiasaan saya selama delapan tahun belakang, saya tahu ada kamu yang pasti mau menerima saya. Satu-satunya orang yang pasti mau menerima saya, jika saya bisa berlaku sebagai Nona sempurna, baik-baik saja, toh saya tahu kamu mengagumi saya. Sedikit flirting, membuat kamu tertawa dan melambungkan kamu, daaannn„ kamu pasti mau menerima saya.
Betul, semuanya terjadi. Terus terang ada keraguan di dalamnya, tapi sudahlah, saya terlanjur sakit hati pada seseorang dan saya ingin membalasnya. Sekali lagi, saya tahu kamu tahu, tapi saya tahu kamu akan menerima saya.
Hmm.. sampai saat ini mungkin kamu marah dengan pernyataan saya, tapi toh saya mau hubungan ini jujur.
Beberapa waktu saya masih menjadi seorang “drama queen” berbaik-baik dengan kamu,menghabiskan waktu, berjalan ke tempat yang menurut kamu menarik, padahal sebenernya semua itu hanya upaya balas dendam.
Seperti bau bangkai yang ditutupi, akhirnya tercium juga. ya, saya berselingkuh. tanpa rasa bersalah. Saya masih merasa lebih nyaman berada dengan dia, ada kenyamanan di sana. Tidak perlu berpanasan ketika berjalan atau basah kehujanan. Ada wangi parfum yang menyerbak darinya.Ada manequin yang bisa saya “dandani” sesuka hati.Tidak perlu bergerak rasanya untuk makan sekalipun, tinggal merengek, datanglah makanan, disuapi pula. Anak manja mana yang tidak suka diperlakukan seperti itu?
dan kamu tahu, apa namanya kalau saya tidak “kepergok?”
Entahlah, saya juga bingung waktu itu. kenapa kamu mau menerima saya lagi. Kamu bilang kamu “sial” karena mencintai saya. Saya bilang saya beruntung.
saya tahu usaha kamu begitu keras untuk menunjukkan bahwa kamu benar mencintai saya. Saya tahu, saya sadar saya hanya pura-pura tidak tahu.
Masih ada getir di hati saya. Terlebih ketika saya tahu kamu menuntut sesuatu dari saya, sebagai kompensasi atas tindakan saya. Saya menurut.
tapi saya tidak suka. Sentuhan kamu terasa kasar, ada kemarahan di dalamnya. Tidak pernah sekalipun saya merasa senang, karena saya terpaksa, dan saya ketakutan bahwa suatu saat kamu bisa melukai saya. Saya akui itu.
Berbagai alasan saya buat, berbagai perlakuan saya berikan, entah kenapa kamu tetap bergeming. Akhirnya saya marah, kesal dan ada rasa ingin menunjukkan bahwa saya tidak akan menyerah juga. saya tidak tahu sampai kapan itu berlangsung.
Akhirnya ada satu titik dimana kita menyadari bahwa kita tidak layak untuk meneruskannya. Berpisah.
Namun, hati saya merasa ada yang salah. tak sepatutnya saya lakukan semuanya. kamu begitu baik, dan saya menyadari saya mulai mencintai cara kamu menempa saya. Menjadi manusia yang lebih berani menghadapi hidup dan membiarkan saya menggapai mimpi-mimpi itu.
Akhirnya, kita memutuskan untuk memulai lagi. Menyenangkan pada awalnya, saya masih merasa nyaman.
Di suatu saat kamu mengakui sesuatu, bahwa kamu mencoba memulai sesuatu dengan orang lain. Saya kesal, belum hitungan bulan kita berpisah lalu ada pernyataan itu. Sejak itu ada yang mengganjal di hati saya.Awalnya tempat kamu di hati saya itu berbeda dengan pria manapun yang pernah saya kenal. Kamu begitu mencintai saya, dan saya percaya itu. tapi semuanya luruh, sampai saat ini ada yang mengganjal dan membuat saya marah.
Sudahlah, saya mengalihkan semuanya lagi. Menyibukkan diri dan membuat saya terlihat lebih baik di mata kamu, dan tentunya untuk kepuasan diri saya sendiri.
Beberapa waktu yang lalu saat saya sedang marah, saya pernah bilang bahwa banyak hal yang saya lakukan buat kamu. saat itu kamu mengiyakan, dan sesudah marah saya reda, kamu mengakui bahwa kamu menganggap saya berlebihan. Dan saya kecewa.
Iya, saya memang tidak melakukannya untuk kamu. Tapi, saya bisa itu karena kamu. Ingat di suatu saat saya menangis karena permasalahan keluarga saya, dan kamu menanggapinya dingin, dan sesaat saya merasa bahwa kamu menganggap saya bersandiwara. Sejak saat itu, saya berjanji tidak akan menjadikan kecengengan saya sebagai alasan untuk disayangi apalagi dikasihani. You know, you mean something to me. Your act so precious to me.
Fiuh, ingatan saya tiba-tiba kembali ke masa tujuh tahun lalu, ketika ayah saya meninggalkan saya. Saya terguncang saat itu, tapi saya tidak punya sandaran. Saya harus berlaku tegar. Hati remuk redam namun tidak boleh ada air mata tumpah, karena seluruhnya bergantung sama saya. Saya yang mengurusi tenda yang harus dibangun. saya mengurusi makanan apa yang harus disuguhkan. saya mendengarkan pertengkaran di dalam keluarga hanya karena sepotong kue. Dan saya harus tersenyum, merasa karena saya baik-baik saja. Tidak ada tangis saya yang tumpah bahkan saudara saya yang bingung menghadapi saya. Di depan makam ayah saya, saya masih bisa tersenyum, karena saya tahu saya tidak mau membuatnya menangis. Tiga hari kemudian, baru tangis saya tumpah. Bukan karena sedih. tapi saya lelah bercampur bahagia.Saya mengantarkannya, saya mengatur kepergiannya dengan baik. Saya yang membuat makanan terhidang. dan ketika tiga hari itu selesai, segala seremonial telah berjalan. Baru mengalir deras air mata saya. tak terbendung.
Well yeah, maaf saya tahu ini tidak ada korelasinya, tapi entahlah saya ingin saja bercerita. maaf ya.
kembali ke masalah kita. Sejak itu kamu merasa tidak bahwa semuanya berjalan dingin? Saya merasa. Saya tahu sejak kapan nada-nada tidak mengenakkan itu terlontar. Sejak itu.
Ingat ketika saya membaca sms itu? Kamu menitikkan air mata dan saya tidak. Saat itu saya benci sekali dengan kamu. Bukan karena sms nya. Tapi kecengengan kamu yang membuat saya marah. Saya benci melihat laki-laki menitikkan air mata. Saya masih ingat melihat kamu terduduk seprti terpojok dan saya benci itu. Saya tidak mau menyandarkan diri saya pada orang cengeng seperti kamu. Terlebih lagi, saya benci melihah orang yang membuat saya tidak mau lagi meneteskan air mata, ternyata melakukannya di depan saya.
Well, this is the hardest part..
saya menjaga diri saya untuk tidak terpancing emosi. Saya tahu kita partner yang hebat, di saat satu marah yang lain diam, begitu kebalikannya. Mungkin saya sering memeprkeruh masalah, agar supaya kamu melontarkan “kata itu”. tapi kamu tidak terpancing, dan saya terlalu egois untuk melontarkannya duluan. jadilah itu kejadian beberapa hari ini.Nah, kamu tahu jawabannya kan? Saya mencari-cari kenyamanan sekaligus mencari-cari cara untuk melepaskan.
Saya merasa tulisan ini hanya menjelek-jelekkan kamu saja. Bukan … (cont)