Cerita pendek perjalanan panjang aku dan dia.
Aku & Dia
May 27, 2010
Rejection and disappointment list


Let we list it all:

  1. Rejected in high school when confide the love feeling at her home. I can understand that I’m no-one compare to her,
  2. After 4 years, she comes to my life and I try to say my feeling but rejected again because she is traumatic of her previous romance. May be I come to her life at the wrong time,
  3. She is falling in love with her office-mate. She is dumping me,
  4. After 6-8 months, come back again to my life because wanna do revenge to her office mate. It’s my chance to be with her, though I know the reason,
  5. I catch that she is cheating in her room. There is her ex-boyfriend chitchat snob in her room while I’m travelling. I just accept her the way she is even if she is not virgin anymore. Just don’t wanna lose her again,
  6. Read her draft-email in her inbox, evidently she just used me to get her revenge. I’m understand that she is unstable,
  7. Trying to propose her to her mom but she have no willingness to help to negotiate to her family. Ok maybe we need time, 
  8. Cancel the big trip we plan since 8 months ago and she spends the intimate-night with magician. I’ve no right to angry because we’ve been separated, and I try to help her
  9. Spend the 2 nights in Bali. She keeps ignoring me, 
  10. She confess that she is already aware to her attitude, but also confess that she is falling love with a photographer. It’s fine with me, just trying to help.
  11. She keeps giving false alarm to me while flirting with photographer. It’s unaccaptable because she must have commitment and stop her manner acting like a slut,
  12. She cancel the 3 days ESQ training. I’ve been preparing this in a month. In hope that she stop her hunting for love habit

And I’m wondering so far, what makes me able to standing still until today if it’s not because of something called Love?

Yeah, we need to move on..but should I need to pay some revenge? maybe ruining both of their life?

I’m not an evil, nor a saint. Just a fragile human.

Dear Pa,

Assalamu’alaikum Pa,

Kau mengingatkanku untuk memberi sedikit ruang pada kesabaran,
Kau meyakinkanku saat kau mengalungkan tanganmu pada pundakku,
Kau mempercayakanku untuk bisa menjalankannya,
Maafkan aku yang gagal menjalankan amanahmu.

Aku tak pernah bertemu denganmu,
Aku tak pernah berbicara denganmu,
Aku tak pernah mencium baumu,
Tapi aku seolah nyata merasa kehangatanmu di depanku.

Sekilas aku menangkap pesan yang ingin kau kirimkan,
Sekilas aku mengerti apa maksudmu masuk dalam mimpiku,
Sekilas aku paham kenapa kau menatapku dalam-dalam waktu itu,
Bahwa kau bahagia di sana dan mengharapkan kebahagiaan yang sama untuknya.

Aku tak pernah mengerti kenapa harus bertemu denganmu,
Aku juga tak pernah mengerti kenapa tidak bisa membiarkannya liar,
Dan aku tak pernah tahu bagaimana bisa melakukan semua,
Mungkin karena kita sama, ingin membahagiakannya.

Maaf Pa, aku gagal kali ini.
Mungkin Pa, jika kau memberiku sedikit petunjuk nanti,
Pasti Pa, doaku kan selalu untukmu dan untuknya.

Beban Pesan yang kau sampaikan padaku ketika kita bermain Tennis, gagal terlaksana.
Mungkin oleh ku atau oleh nya, atau mungkin oleh kami berdua.

Alloohummaghfir li (…) warfa’ darajatahuu fil mahdiyyiin wakhlufhu fii aqibihii fil ghaabiriin waghfir lanaa walahuu yaa rabbal aalamiin wafsah lahuu fii qabrihi wa nawwir lahuu fiihi.

May 13, 2010
Premonition.
Saya:
Selamat ya atas pernikahan kamu.. Maaf tadi aku ngelantur di telpon, ternyata cerita aku jauh berbeda dgn cerita bahagia kamu :)
Kalau ada calon buat aku, aku siap apapun resikonya.
Teman:
Dari awal aku sdh ngasih clue ke kamu, cuman kmu ga nangkap bola dari aku. Cintamu terlalu tinggi, jadi ga mungkin aku menjatuhkan semangat kamu. Memang dia seperti itu, hanya pasrah & memanfaatkan keadaan, itu terlihat saat aku "memaksa" dia melakukan PDKT terhadap ortunya untuk meminta kamu masuk jadi bagian keluarga.
Saya:
Emang kamu pernah bantu ngeyakinin dia? ak pengen cerita detailnya..pls
Teman:
Ga pernah, aku cuma lewat gaib..percaya ga percaya, aku sudah berkomunikasi langsung dgn dalemnya dia, tapi hasilnya nihil. Sulit menjelaskannya..
Saya:
Okay..thanx ya. Menurut kamu skarang dia udah berubah atau belum? apa yang dia cari sebenarnya? gw kasiyan karna dia ga ngehargain diri dia sendiri
Teman:
Jangan terbawa emosi,..itu semua perjalanan manusia. jadikan pelajaran saja...mudah2an Alloh memberi cahaya ke dia. Sekarang lebih baik fokus ke diri sendiri...
Sedikit mengingat kan saja, Tujuan hidup untuk apa? Untuk mbina keluarga doank??,kan nggak itu toh?...cuma emang itu salah satu kenikmatan dari-NYA.
tolong rubah mindset awal,tujuan hanya berfokus pd Allah sang maha pencipta dan maha pencemburu,,jd kan cintamu seratus persen hanya untukNYA,,insya Allah jodoh,rejeki semuanya DIA yg atur..ingat lah ky...DIA itu dekat...sangat dekat bahkan lebih dekat dr urat nadi mu sndiri.
Teman:
Ini bukan semata-mata teori belaka..kalo sdh merasakan dahsyat nya kekuatan CINTA dgn khalik,apapun didepan kamu ky,kamu dak akan tergoda,,ya..sedikit2 itu pasti ada,karena kita memang manusia,tp tolong tdk terhanyut. Apa lg masalah sepele,hanya satu wanita,yg jelas2 sdh dilihat dan dibukakan oleh allah,siapa dia sbnrnya,apa kelebihan dia? Dan ternyata ga ada wahhh nya sama sekali,lantas apa lg yg kamu cari???? Bukan kah kamu prnah tau dan prnah bilang di status di Fesbuk..surah Ar-rahman toh? Lalu apa aplikasinya???? :)
Saya:
Aku cuma kasihan sama dia. jgna sampe dia mencari cinta dgn cara berbuat yang engga2. walopun sebenci2nya aku dgn dia...ak tetap pengen dia nyadar
Teman:
Denger kawan..tunda dulu kebaikan mu.aku tau kebaikan mu masih berujung pd kepentingan dan berselimutkan nafsu.kita ini akan dipanggil menghadapNYA itu tidak rame-rame,tdk berbondong-bondong,,tapi datang sendiri-sendiri.jd saran paling utama dari aku,tolong cari lah jati dirimu sendiri dulu..
Saya:
ada rasa dendam juga..ak gak rela dsakitin cewe yg aku sayang
Teman:
Itu lah yg dikatakan nafsu. Amarah,dendam dan sbgainya bagian dr pada nafsu. Hanya bersama NYA itu semua akan hilang
Saya:
trus gimana menghilangkannya..aku rajin Yasinan..aku rajin sholat malam...ak rajin nangis di doa...apa kurang?
Teman:
PERCUMA. Sekarang aku tanya boleh? kamu yasin,nangis,sholat mlm untuk apa?
Saya:
untuk kebahagiaan aku dan dia
Teman:
Sebegitu yakin nya kamu kalo itu semua berhasil?
Saya:
itu cara yg aku tau
Teman:
sekarang yg kamu tau seperti itu dan kamu melakukan semua itu,minta sama siapa? Tuhan kan?
Saya:
Iya..kepada siapa lagi aku harus mengadu?
Teman:
Memang kamu kenal sama TUHAN, bro..
Saya:
mungkin aku kurang mengenal dia...cma itu cara yg aku tau utk berkomunikasi ke dia
Teman:
hla..kamu kurang mengenal dia..trus sebegitu yakinnya doa dikabulkan? Dan mengenal DIA bukan dinilai dr seberapa sering kamu nangis,sholat mlm dsbgainya.
Lalu timbul pertanyaan kan...bagaimana mengenal Dia? Pernah dger hadis KENALILAH DIRIMU MAKA kamu AKAN MENGENAL TUHAN MU
Kalo sudah tau jawaban itu...insya allah apa pun akan berhasil
Saya:
iya...aku salah dan pengen belajar memperbaikiki
Teman:
Bagus...itulah sebenarnya yg dinamakan husnul hotimah...Meninggal dlm keadaan kita sdh mengenal TUHAN...Berarti dia selamat
Nanti aku bimbing kamu...
Saya:
Iya, tolong bantu aku...
Teman:
sabar..sabr..aku mau ke pasar dulu, mau masak...nanti kita sambung lagi ya..
Saya:
AKu juga mau olahraga..
makasih ya
May 10, 2010
cinta tak harus memiliki

Ini cerita kita..

yang menyadarkanku bahwa cinta itu ada.
yang membuatku berani menulis kisah dengan tinta emas di seutas benang yang tipis.
dengan angan akan menjadi kain persembahan di kayangan.


Malam demi malam kita rajut dengan canda.
Siang demi siang kita lanjutkan dengan karya.
aku mencintaimu karena karya canda kita begitu menggema.


Ada keluh yang sering kulontarkan.
ada marah yang sering kugulirkan.
dan dengan caramu engkau menenangkan.


selalu berharap kamu bahagia dengan caraku
meski kutahu balasan yg kuberikan tidak setimpal dengan cinta tulusmu.
dan kau buatku yakin, cinta itu ada.


cerita kita memang seperti ini.
seberapa emas tinta yang kita torehkan, dia tetap tinta, yang basah.
dan cerita ini harus berakhir, karena cerita di atas benang ini tidaklah bisa tegak.

-eneng-

April 22, 2010
8 tahun untuk 8 bulan

Rasanya terlalu sayang jika cerita ini disimpan begitu saja. Saya memutuskan untuk berbagi, mungkin sebagai pengingat diri sendiri agar tetap istiqomah mencari atau nanti diceritakan kepada anak-anak seperti salah satu episode dalam serial “How I met your Mother”.

Mohon maaf jika terlalu banyak drama di dalamnya, saya berusaha menjadi seoarang cerpenis biar cerita ini tak lekang oleh waktu. Pada dasarnya saya melankolis, namun koleris seringkali mengambil alih. Dan untuk saat ini, biarlah sisi melankolis berteriak lepas.

Kisah ini bermula 8 tahun lalu. Ketika pindah ke sebuah SMU di kota Palembang. Sama seperti ketika menghadapi suasana kerja baru, perasaan saya campur aduk.
Takut, tidak nyaman, asing dan aneh menemani saya yang duduk di belakang tanpa kenalan. Perut mual keringat bercucuran menggambarkan suasana hati saat itu. Ketika yang lain bermain dan jajan di kantin sekolah, saya berpura-pura membaca di kelas.

Datanglah dua orang wanita dan mereka duduk di bangku depan, mereka biasa saja. Namun yang membuat pertemuan itu berkesan adalah senyuman dan keramahan yang membuat nyaman. Saya langsung suka dengan salah satu dari mereka, pada pandangan pertama.

Dan pada saat itu, saya telah melakukan kebodohan.

Saya menyukai cewek yang menjadi idola seantero sekolah. Cantik, pintar, dan populer. Bagaimana bisa anak baru, turun-naik bus, unpopular, average, mediocre dan ga pinter-pinter amat bisa masuk ke dalam liga A seri merebut-hati-si-cewek-populer. Bisa masuk di Liga B saja cost a fortune buat gue. Sadar dengan posisi klasemen yang tidak menguntungkan, perasaan itu dipendam. Berusaha untuk tampil bagus tidak tampil salah dan tidak menunjukkan rasa suka menjadi rutinitas. Dari jauh saya memperhatikan orang-orang yang berusaha mendekatinya, dari jauh melihat siapa yang berjalan dengannya dan siapa saja yang bisa menaklukkan hatinya. Berada pada satu kelas selama 2 tahun, menjadi sebuah keuntungan tersendiri. You may call me a stalker, but I prefer to be called observer. :p

To make it short, she is more than someone and I’m just a no one.

Pada waktu SMU, saya masuk pada kasta paling bawah pergaulan. Mungkin hanya beberapa teman yang mengenal. Jarang bermain di kantin, jarang ngumpul setelah balik, dan tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler. Saya menghindari banyak kontak sosial disebabkan oleh rasa minder karena tidak ada yang bisa ditunjukkan sebagai identitas pribadi. Identitas ini bisa berbentuk piala, sesuatu beroda 2 atau 4, atau benda kecil dengan banyak tombol. Jadi bisa dibayangkan bagaimana orang dengan karakter seperti di atas, dengan bodohnya nekatnya melakukan pendekatan.

Hampir 2 tahun rasa ini dipendam. Teman-teman tahu, mereka mencoba memaksa untuk menunjukkan perasaan ini. Hingga pada waktu mendekati kelulusan, saya mencoba untuk melakukan pendekatan.

Contoh pendekatan bodoh yang dilakukan adalah…ah, tak usahlah diceritakan bagaimana berusaha hanya untuk di-notice. Bagaimana melakukan sesuatu agar GPSnya berbunyi dan menunjukkan bahwa saya ada, bahwa ada tambahan satu orang yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam fans-clubnya. Bisa jatuh harga diri ini jika penonton tahu apa saja yang sudah dilakukan dan reaksi apa yang dia berikan.

Puncak dari semua itu ketika memberanikan diri datang ke rumahnya untuk menyatakan perasaan, tentu saja berharap untuk diterima apa adanya. Ya..ya, saya tahu ‘apa adanya’ berarti apa ada tampang keren? apa ada hape canggih? apa punya prestasi?
Tetap mencoba berpikir positif, melupakan apa yang telah dilakukannya selama ini adalah karena ketidaktahuan dirinya. Bukankah ketika jatuh cinta tahiu pun berasa coklat.

Saya masuk ke rumahnya, dan disambut oleh pembantunya. Sepertinya dia tahu maksud kedatangan. Air putih disiapkan untuk mengguyur, eh bukan..sebagai persiapan saya jika gugup. Ya, dia tau saya tidak PD-an.

Saya menjelaskan alasan kenapa ujug-ujug datang ke rumah, dia maklum. Tidak banyak yang dia katakan, hanya sebuah syarat. Syarat yang jika terpenuhi, dia berjanji untuk menimbang permintaan tadi. Bukan 1000 candi yang dia minta, juga bukan mengubah kapal menjadi gunung. Adalah jika bisa diterima di Perguruan Tinggi dengan logo Gajah di Bandung.

Berat memang, namun tekad sudah bulat. Bersama beberapa teman, kami intensif di kota kembang untuk bisa meningkatkan passing grade kelulusan. Tujuan hanya dua, masuk ke fakultas idaman saya dan mendapatkan dia.

Namun, kapasitas otak ternyata tidak mampu menaklukkan soal-soal ujian. Saya gagal masuk ke Fakultas favorit, dan saya kehilangan kesempatan mendapatkannya. Kecewa, pasti.

Dan di sinilah saya sadar, saya harus berubah. Harus bisa melupakan dia.

Di masa-masa krisis jatidiri saya berkenalan dengan sekelompok weirdy-freak yang mengaku-ngaku jago komputer. Dunia IT selalu menarik dan bisa berkenalan dengan orang-orang dengan minat yang sama menjadi pelarian. Untuk bisa mengalihkan pikiran dari dia. Setiap kegiatan yang diadakan oleh komunitas tersebut diikuti, berusaha untuk ’standing in the crowd’, berusaha untuk sibuk, berusaha untuk ‘menjadi seseorang’. Saya tak ingin hanya datang, duduk dan mendengarkan dosen lalu pulang dengan passing grade tinggi. Saya ingin berubah dan tidak ingin dianggap bukan siapa-siapa.

3 tahun berjuang, dan lumayan menampakkan hasil. Saya cukup puas dengan apa yang telah dilakukan dan sudah bisa melupakan dia. Entah kenapa hati ini sulit untuk jatuh cinta, setiap saya mendekati wanita…saya berharap itu dia. Dan portfolio pacaran selama kuliah, nothing. Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, bukan? That’s the fact.

Tapi saya tetap tidak bisa lari, setiap mereview apa yang sudah saya lakukan, selalu mengingatnya. Apa yang sudah di lakukan, sedikit banyak karena dirinya. Walaupun saya melakukan sendiri, tapi motivasi dibelakangnya adalah dia.

Setelah 4 tahun berpisah, kami kembali dipertemukan. Dan sepertinya dia mulai menyadari keberadaan saya. Cinta lama bersemi, dan saya mencoba kembali. Walaupun kali ini keberadaan saya sudah diakui, ternyata tidak mudah untuk masuk dalam hidupnya. Kisahnya dengan seseorang yang spesial di masa lalu, membuat agresi-agresi saya mental. Maklum, memang sulit melupakan seseorang dan kembali kami harus terpisahkan. Lagi-lagi cinta saya kandas.

Dia sibuk dengan pekerjaannya, dan saya sibuk dengan kegiatan pribadi. And history repeats itself.
Tak mudah melupakan dia (lagi), saya melakukan pendekatan yang berbeda untuk kembali melupakan dia. Mencari hobi sebagai pelarian dan kompetisi sebagai penyaluran emosi.

Tak sampai setahun, dia kembali lagi. Kali ini saya mencoba untuk hati-hati, namun tak bisa. Saya tetap bisa menerima dia apa adanya, apapun kisah yang dibawanya dan seperti apapun dia. Akhirnya kami saling menerima cinta masing-masing. Kita pun menjalaninya, bagi saya apa yang dijalani bersamanya lebih indah dari mimpi sekalipun.

Kita berbagi cerita, saling mengagumi dan saling mendukung satu sama lain. Tak ada alasan untuk tidak membawa hubungan ini ke tingkat yang lebih serius. Tapi…

Ada sesuatu yang membuat kita berpikir ulang, dan memutuskan untuk berpisah.

Setelah menjalani waktu bersama, kami belum bisa menemukan alasan yang kuat untuk meneruskan cerita ini. Mungkin saya belum bisa mengerti dia sepenuhnya atau saya yang terlalu banyak menuntut.

Ada beberapa hal yang bisa saya pelajari. Cinta membutuhkan kepercayaan yang tidak hanya sekedar diucap dengan kata-kata, tetapi harus ada komitmen dari dua orang untuk menjaga kepercayaan itu walaupun panasnya seperti bara api. Cinta itu seperti makhluk hidup, dia bisa tumbuh dan berkembang. Tapi jika ada hama, dia pun bisa layu. Jika tidak dipupuk dan disiram setiap waktu. Bahkan untuk sebuah cinta yang diperjuangkan selama 8 tahun.

February 22, 2010
My daily dose of …

Everytime I feel blue, I read this…It’s pain, but makes me stronger.

I realize that how much you fight for love, it just can’t be pushed if he/she doesn’t want to work it out together.

—————————-

to my dearest one..

uhuyy.. dah lama ga ngobrol sama kamu “dengan benar”, kemaren saya merasa senang sekali. Nyaman dan tanpa merasa terkekang. I Love that feeling.

Buat saya seharusnya sentuhan itu mudah, tidak pelu dipaksa apalagi dituntut. Saya ini anak keras kepala dan egois. Kalau kamu mulai menginginkan sesuatu dari saya. maka saya akan bertindak sangat defensif. Tapi, disaat saya nyaman, saya bisa memberikan apa yang kamu mau, tanpa perlu diminta. Itulah hasilnya kemarin, obrolan ringan, nyaman, tanpa tuntutan.

Ada apa dengan saya sekarang? Kenapa saya mau-maunya menghabiskan waktu untuk email seperti ini? entahlah. Mungkin karena saya kesepian. atau mungkin kangen. Ya, kangen. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya sekarang. Sudah lama saya berlaku tidak romantis. Hmm.. sebentar, sudah lama? mungkin tidak pernah ya? Makanya saya mau melakukannya sedikit sekarang, eh kalau memang mengirim email di tengah malam minggu itu romantis ya ..:p

Saya mau cerita, gamblang. Atas apa yang sudah saya pikirkan beberapa bulan belakang. Saat kamu mulai memenuhi hidup saya. Saya tahu mungkin ini bisa jadi momok yang membuat kamu tidak mau lagi sama saya, atau mungkin sebaliknya, bisa membuat hubungan ini lebih jujur. Tidak klise yang hanya dirangkai kata hati-hati. Saya tahu kita sama-sama sedang meniti di benang yang tipis. Kalau bersama, mungkin sampai ke seberang bukit. tapi bisa saja satu diantara kita menyerah dan menghempaskan diri ke dalam jurang, dan jatuh entah siapa yang menangkapnya nanti. 

delapan bulan yang lalu..

saya gundah, dan saya marah. dan seperti kebiasaan saya selama delapan tahun belakang, saya tahu ada kamu yang pasti mau menerima saya. Satu-satunya orang yang pasti mau menerima saya, jika saya bisa berlaku sebagai Nona sempurna, baik-baik saja, toh saya tahu kamu mengagumi saya. Sedikit flirting, membuat kamu tertawa dan melambungkan kamu, daaannn„ kamu pasti mau menerima saya.

Betul, semuanya terjadi. Terus terang ada keraguan di dalamnya, tapi sudahlah, saya terlanjur sakit hati pada seseorang dan saya ingin membalasnya. Sekali lagi, saya tahu kamu tahu, tapi saya tahu kamu akan menerima saya. 

Hmm.. sampai saat ini mungkin kamu marah dengan pernyataan saya, tapi toh saya mau hubungan ini jujur. 

Beberapa waktu saya masih menjadi seorang “drama queen” berbaik-baik dengan kamu,menghabiskan waktu, berjalan ke tempat yang menurut kamu menarik, padahal sebenernya semua itu hanya upaya balas dendam. 

Seperti bau bangkai yang ditutupi, akhirnya tercium juga. ya, saya berselingkuh. tanpa rasa bersalah. Saya masih merasa lebih nyaman berada dengan dia, ada kenyamanan di sana. Tidak perlu berpanasan ketika berjalan atau basah kehujanan. Ada wangi parfum yang menyerbak darinya.Ada manequin yang bisa saya “dandani” sesuka hati.Tidak  perlu bergerak rasanya untuk makan sekalipun, tinggal merengek, datanglah makanan, disuapi pula. Anak manja mana yang tidak suka diperlakukan seperti itu?

dan kamu tahu, apa namanya kalau saya tidak “kepergok?”

Entahlah, saya juga bingung waktu itu. kenapa kamu mau menerima saya lagi. Kamu bilang kamu “sial” karena mencintai saya. Saya bilang saya beruntung.

saya tahu usaha kamu begitu keras untuk menunjukkan bahwa kamu benar mencintai saya. Saya tahu, saya sadar saya hanya pura-pura tidak tahu.

Masih ada getir di hati saya.  Terlebih ketika saya tahu kamu menuntut sesuatu dari saya, sebagai kompensasi atas tindakan saya. Saya menurut.

tapi saya tidak suka. Sentuhan kamu terasa kasar, ada kemarahan di dalamnya. Tidak pernah sekalipun saya merasa senang, karena saya terpaksa, dan saya ketakutan bahwa suatu saat kamu bisa melukai saya. Saya akui itu.

Berbagai alasan saya buat, berbagai perlakuan saya berikan, entah kenapa kamu tetap bergeming. Akhirnya saya marah, kesal dan ada rasa ingin menunjukkan bahwa saya tidak akan menyerah juga. saya tidak tahu sampai kapan itu berlangsung.

Akhirnya ada satu titik dimana kita menyadari bahwa kita tidak layak untuk meneruskannya. Berpisah.

Namun, hati saya merasa ada yang salah. tak sepatutnya saya lakukan semuanya. kamu begitu baik, dan saya menyadari saya mulai mencintai cara kamu menempa saya. Menjadi manusia yang lebih berani menghadapi hidup dan membiarkan saya menggapai mimpi-mimpi itu. 

Akhirnya, kita memutuskan untuk memulai lagi. Menyenangkan pada awalnya, saya masih merasa nyaman. 

Di suatu saat kamu mengakui sesuatu, bahwa kamu mencoba memulai sesuatu dengan orang lain. Saya kesal, belum hitungan bulan kita berpisah lalu ada pernyataan itu. Sejak itu ada yang mengganjal di hati saya.Awalnya tempat kamu di hati saya itu berbeda dengan pria manapun yang pernah saya kenal. Kamu begitu mencintai saya, dan saya percaya itu. tapi semuanya luruh, sampai saat ini ada yang mengganjal dan membuat saya marah.

Sudahlah, saya mengalihkan semuanya lagi. Menyibukkan diri dan membuat saya terlihat lebih baik di mata kamu, dan tentunya untuk kepuasan diri saya sendiri.

Beberapa waktu yang lalu saat saya sedang marah, saya pernah bilang bahwa banyak hal yang saya lakukan buat kamu. saat itu kamu mengiyakan, dan sesudah marah saya reda, kamu mengakui bahwa kamu menganggap saya berlebihan. Dan saya kecewa. 

Iya, saya memang tidak melakukannya untuk kamu. Tapi, saya bisa itu karena kamu. Ingat di suatu saat saya menangis karena permasalahan keluarga saya, dan kamu menanggapinya dingin, dan sesaat saya merasa bahwa kamu menganggap saya bersandiwara. Sejak saat itu, saya berjanji tidak akan menjadikan kecengengan saya sebagai alasan untuk disayangi apalagi dikasihani. You know, you mean something to me. Your act so precious to me.

Fiuh, ingatan saya tiba-tiba kembali ke masa tujuh tahun lalu, ketika ayah saya meninggalkan saya. Saya terguncang saat itu, tapi saya tidak punya sandaran. Saya harus berlaku tegar. Hati remuk redam namun tidak boleh ada air mata tumpah, karena seluruhnya bergantung sama saya. Saya yang mengurusi tenda yang harus dibangun. saya mengurusi makanan apa yang harus disuguhkan. saya mendengarkan pertengkaran di dalam keluarga hanya karena sepotong kue. Dan saya harus tersenyum, merasa karena saya baik-baik saja. Tidak ada tangis saya yang tumpah bahkan saudara saya yang bingung menghadapi saya. Di depan makam ayah saya, saya masih bisa tersenyum, karena saya tahu saya tidak mau membuatnya menangis. Tiga hari kemudian, baru tangis saya tumpah. Bukan karena sedih. tapi saya lelah bercampur bahagia.Saya mengantarkannya, saya mengatur kepergiannya dengan baik. Saya yang membuat makanan terhidang. dan ketika tiga hari itu selesai, segala seremonial telah berjalan. Baru mengalir deras air mata saya. tak terbendung.

Well yeah, maaf saya tahu ini tidak ada korelasinya, tapi entahlah saya ingin saja bercerita. maaf ya.

kembali ke masalah kita. Sejak itu kamu merasa tidak bahwa semuanya berjalan dingin? Saya merasa. Saya tahu sejak kapan nada-nada tidak mengenakkan itu terlontar. Sejak itu. 

Ingat ketika saya membaca sms itu? Kamu menitikkan air mata dan saya tidak. Saat itu saya benci sekali dengan kamu. Bukan karena sms nya. Tapi kecengengan kamu yang membuat saya marah. Saya benci melihat laki-laki menitikkan air mata. Saya masih ingat melihat kamu terduduk seprti terpojok dan saya benci itu. Saya tidak mau menyandarkan diri saya pada orang cengeng seperti kamu. Terlebih lagi, saya benci melihah orang yang membuat saya tidak mau lagi meneteskan air mata, ternyata melakukannya di depan saya.

Well, this is the hardest part..

saya menjaga diri saya untuk tidak terpancing emosi. Saya tahu kita partner yang hebat, di saat satu marah yang lain diam, begitu kebalikannya. Mungkin saya sering memeprkeruh masalah, agar supaya kamu melontarkan “kata itu”. tapi kamu tidak terpancing, dan saya terlalu egois untuk melontarkannya duluan. jadilah itu kejadian beberapa hari ini.Nah, kamu tahu jawabannya kan? Saya mencari-cari kenyamanan sekaligus mencari-cari cara untuk melepaskan.

Saya merasa tulisan ini hanya menjelek-jelekkan kamu saja. Bukan … (cont)

February 2, 2010
..the (real) decision

What if you know something before it’s going to happen? I’m going to close my eyes and just imagine what I want to imagine.

I don’t care what lies behind as long as I can feel the dream.

——————-

Date: 2009/9/26

Hari ini seharusnya aku memutuskan sesuatu, yang sangat mempengaruhi masa depanku. Sayangnya, aku belum berani memutuskan.

12 hari berpikir, rasa cinta ini masih pasang surut. Kadang beriak kadang tenang. Kadang ingin mendekat kadang ingin menjauh. Kadang bahagia kadang terluka.

Hari ini, mau tidak mau, aku memutuskan bahwa aku akan melepaskanmu. Elang yang terkungkung akan rasa khawatir dan marah tidaklah menjadi elang si penguasa langit. Karenanya, kubiarkan kamu terbang menjelajahi langit dan sesekali mencengkeram dahan kokoh yang besar tinggi sepadan dirimu. Aku membiarkanmu mengepak sayap lebih lebar dan terbang lebih tinggi.

Aku akan mengawasimu, dari sini, mendengar pekikmu yang menggema, menghirup sisa kibasan sayapmu, dan merasakan riuh rendah suasana saat kamu masih di sangkarku.

Maafkan aku, untuk membiarkan engkau lepas dari sangkar. Izinkan kedewasaan menyurutkan egoku untuk engkau mendapat yg lebih baik dan lebih mengerti. Hati ini lebih tenang ketika tau engkau berada di alam lepas, ketimbang dalam sangkar dengan deraian emosi yang membuncah.

Aku iri,pada sangkar manapun yang mampu merengkuhmu tenang, elangku…

Sampai jumpa. Aku bahagia menghadapi nyata denganmu, sayangnya mimpiku tak sepadan denganmu. Aku mengalah, karna mimpi membuatku mampu menjalani nyata.

Thanks,

October 2, 2009
the decision

 Truly,

I don’t know what I feel. Don’t know what I want.

But I can’t find exact reason to say No.

So, Why I shouldn’t say yes?

-eneng-