Rasanya terlalu sayang jika cerita ini disimpan begitu saja. Saya memutuskan untuk berbagi, mungkin sebagai pengingat diri sendiri agar tetap istiqomah mencari atau nanti diceritakan kepada anak-anak seperti salah satu episode dalam serial “How I met your Mother”.
Mohon maaf jika terlalu banyak drama di dalamnya, saya berusaha menjadi seoarang cerpenis biar cerita ini tak lekang oleh waktu. Pada dasarnya saya melankolis, namun koleris seringkali mengambil alih. Dan untuk saat ini, biarlah sisi melankolis berteriak lepas.
Kisah ini bermula 8 tahun lalu. Ketika pindah ke sebuah SMU di kota Palembang. Sama seperti ketika menghadapi suasana kerja baru, perasaan saya campur aduk.
Takut, tidak nyaman, asing dan aneh menemani saya yang duduk di belakang tanpa kenalan. Perut mual keringat bercucuran menggambarkan suasana hati saat itu. Ketika yang lain bermain dan jajan di kantin sekolah, saya berpura-pura membaca di kelas.
Datanglah dua orang wanita dan mereka duduk di bangku depan, mereka biasa saja. Namun yang membuat pertemuan itu berkesan adalah senyuman dan keramahan yang membuat nyaman. Saya langsung suka dengan salah satu dari mereka, pada pandangan pertama.
Dan pada saat itu, saya telah melakukan kebodohan.
Saya menyukai cewek yang menjadi idola seantero sekolah. Cantik, pintar, dan populer. Bagaimana bisa anak baru, turun-naik bus, unpopular, average, mediocre dan ga pinter-pinter amat bisa masuk ke dalam liga A seri merebut-hati-si-cewek-populer. Bisa masuk di Liga B saja cost a fortune buat gue. Sadar dengan posisi klasemen yang tidak menguntungkan, perasaan itu dipendam. Berusaha untuk tampil bagus tidak tampil salah dan tidak menunjukkan rasa suka menjadi rutinitas. Dari jauh saya memperhatikan orang-orang yang berusaha mendekatinya, dari jauh melihat siapa yang berjalan dengannya dan siapa saja yang bisa menaklukkan hatinya. Berada pada satu kelas selama 2 tahun, menjadi sebuah keuntungan tersendiri. You may call me a stalker, but I prefer to be called observer. ![]()
To make it short, she is more than someone and I’m just a no one.
Pada waktu SMU, saya masuk pada kasta paling bawah pergaulan. Mungkin hanya beberapa teman yang mengenal. Jarang bermain di kantin, jarang ngumpul setelah balik, dan tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler. Saya menghindari banyak kontak sosial disebabkan oleh rasa minder karena tidak ada yang bisa ditunjukkan sebagai identitas pribadi. Identitas ini bisa berbentuk piala, sesuatu beroda 2 atau 4, atau benda kecil dengan banyak tombol. Jadi bisa dibayangkan bagaimana orang dengan karakter seperti di atas, dengan bodohnya nekatnya melakukan pendekatan.
Hampir 2 tahun rasa ini dipendam. Teman-teman tahu, mereka mencoba memaksa untuk menunjukkan perasaan ini. Hingga pada waktu mendekati kelulusan, saya mencoba untuk melakukan pendekatan.
Contoh pendekatan bodoh yang dilakukan adalah…ah, tak usahlah diceritakan bagaimana berusaha hanya untuk di-notice. Bagaimana melakukan sesuatu agar GPSnya berbunyi dan menunjukkan bahwa saya ada, bahwa ada tambahan satu orang yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam fans-clubnya. Bisa jatuh harga diri ini jika penonton tahu apa saja yang sudah dilakukan dan reaksi apa yang dia berikan.
Puncak dari semua itu ketika memberanikan diri datang ke rumahnya untuk menyatakan perasaan, tentu saja berharap untuk diterima apa adanya. Ya..ya, saya tahu ‘apa adanya’ berarti apa ada tampang keren? apa ada hape canggih? apa punya prestasi?
Tetap mencoba berpikir positif, melupakan apa yang telah dilakukannya selama ini adalah karena ketidaktahuan dirinya. Bukankah ketika jatuh cinta tahiu pun berasa coklat.
Saya masuk ke rumahnya, dan disambut oleh pembantunya. Sepertinya dia tahu maksud kedatangan. Air putih disiapkan untuk mengguyur, eh bukan..sebagai persiapan saya jika gugup. Ya, dia tau saya tidak PD-an.
Saya menjelaskan alasan kenapa ujug-ujug datang ke rumah, dia maklum. Tidak banyak yang dia katakan, hanya sebuah syarat. Syarat yang jika terpenuhi, dia berjanji untuk menimbang permintaan tadi. Bukan 1000 candi yang dia minta, juga bukan mengubah kapal menjadi gunung. Adalah jika bisa diterima di Perguruan Tinggi dengan logo Gajah di Bandung.
Berat memang, namun tekad sudah bulat. Bersama beberapa teman, kami intensif di kota kembang untuk bisa meningkatkan passing grade kelulusan. Tujuan hanya dua, masuk ke fakultas idaman saya dan mendapatkan dia.
Namun, kapasitas otak ternyata tidak mampu menaklukkan soal-soal ujian. Saya gagal masuk ke Fakultas favorit, dan saya kehilangan kesempatan mendapatkannya. Kecewa, pasti.
Dan di sinilah saya sadar, saya harus berubah. Harus bisa melupakan dia.
Di masa-masa krisis jatidiri saya berkenalan dengan sekelompok weirdy-freak yang mengaku-ngaku jago komputer. Dunia IT selalu menarik dan bisa berkenalan dengan orang-orang dengan minat yang sama menjadi pelarian. Untuk bisa mengalihkan pikiran dari dia. Setiap kegiatan yang diadakan oleh komunitas tersebut diikuti, berusaha untuk ’standing in the crowd’, berusaha untuk sibuk, berusaha untuk ‘menjadi seseorang’. Saya tak ingin hanya datang, duduk dan mendengarkan dosen lalu pulang dengan passing grade tinggi. Saya ingin berubah dan tidak ingin dianggap bukan siapa-siapa.
3 tahun berjuang, dan lumayan menampakkan hasil. Saya cukup puas dengan apa yang telah dilakukan dan sudah bisa melupakan dia. Entah kenapa hati ini sulit untuk jatuh cinta, setiap saya mendekati wanita…saya berharap itu dia. Dan portfolio pacaran selama kuliah, nothing. Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, bukan? That’s the fact.
Tapi saya tetap tidak bisa lari, setiap mereview apa yang sudah saya lakukan, selalu mengingatnya. Apa yang sudah di lakukan, sedikit banyak karena dirinya. Walaupun saya melakukan sendiri, tapi motivasi dibelakangnya adalah dia.
Setelah 4 tahun berpisah, kami kembali dipertemukan. Dan sepertinya dia mulai menyadari keberadaan saya. Cinta lama bersemi, dan saya mencoba kembali. Walaupun kali ini keberadaan saya sudah diakui, ternyata tidak mudah untuk masuk dalam hidupnya. Kisahnya dengan seseorang yang spesial di masa lalu, membuat agresi-agresi saya mental. Maklum, memang sulit melupakan seseorang dan kembali kami harus terpisahkan. Lagi-lagi cinta saya kandas.
Dia sibuk dengan pekerjaannya, dan saya sibuk dengan kegiatan pribadi. And history repeats itself.
Tak mudah melupakan dia (lagi), saya melakukan pendekatan yang berbeda untuk kembali melupakan dia. Mencari hobi sebagai pelarian dan kompetisi sebagai penyaluran emosi.
Tak sampai setahun, dia kembali lagi. Kali ini saya mencoba untuk hati-hati, namun tak bisa. Saya tetap bisa menerima dia apa adanya, apapun kisah yang dibawanya dan seperti apapun dia. Akhirnya kami saling menerima cinta masing-masing. Kita pun menjalaninya, bagi saya apa yang dijalani bersamanya lebih indah dari mimpi sekalipun.
Kita berbagi cerita, saling mengagumi dan saling mendukung satu sama lain. Tak ada alasan untuk tidak membawa hubungan ini ke tingkat yang lebih serius. Tapi…
Ada sesuatu yang membuat kita berpikir ulang, dan memutuskan untuk berpisah.
Setelah menjalani waktu bersama, kami belum bisa menemukan alasan yang kuat untuk meneruskan cerita ini. Mungkin saya belum bisa mengerti dia sepenuhnya atau saya yang terlalu banyak menuntut.
Ada beberapa hal yang bisa saya pelajari. Cinta membutuhkan kepercayaan yang tidak hanya sekedar diucap dengan kata-kata, tetapi harus ada komitmen dari dua orang untuk menjaga kepercayaan itu walaupun panasnya seperti bara api. Cinta itu seperti makhluk hidup, dia bisa tumbuh dan berkembang. Tapi jika ada hama, dia pun bisa layu. Jika tidak dipupuk dan disiram setiap waktu. Bahkan untuk sebuah cinta yang diperjuangkan selama 8 tahun.